Thursday, 12 July 2018

CIRENG CRISPY

Cireng dan cuko, dua hal yang selalu mengingatkan saya kepada Mih Eru dan Ceu Emas, perak dan perunggu #eeeehh. Ya, beliau-beliau ini adalah pembuat cireng dan cuko yang handal di seantero Kaki gunung Ceremai tepatnya Desa Bandorasa Kulon. Olahan cireng Mih Eru cenderung empuk dan agak krispi sedangkan buatan Ceu Emas lebih padat karena berupa gelondongan yang kemudian di potong dan di goreng. Cireng dan cuko kerap menjadi menu sarapan yang mengenyangkan saat mudik lebaran.

Cireng sendiri telah ada sejak era pleistosen yang bersentuhan dengan kelahiran homo sapiens pertama di dunia haha ngayal, sejak era 80-an ding, era dimana Ahmad Albar banyak dikecam penggemarnya gara-gara merilis album dangdut bertajuk Zakia.

Dulu saat zaman SD, bila menyantap makanan berbahan dasar teoung tapioka, kanji atau sagu itu pasti ditemani dengan saus sambal berwarna merah membara bagai gincu para geisha, ish...ish... Saus yang entah merknya apa, dibuatnya dimana dan harganya berapa itu memang menjadi perpaduan yang cocok maricok dengan Cireng hangat. Kini Cireng disantap tak hanya dengan saus sambal tapi juga dengan sambal petis, sambal kacang, sambal oncom, sambal rujak, cuko bahkan mayonaise.

Bagai genre musik, Cireng pun memiliki turunan seperti cilok (aci dicolok), cimol (aci digemol), cimin (aci mini), cilung (aci digulung), citruk (aci diketruk), dan cilor (aci telor). Cireng sendiri memiliki beberapa varian diantaranya cireng isi (keju, cabai, sosis, baso, kornet), rujak cireng, cireng terasi serta cireng crispy.

Disamping rasanya enak, cara membuatnya terhitung sangat mudah dan cepat. Bahannya pun tak sulit dicari sehingga gak bikin pusing kepala Barbie.

Bahan biang :
50 gr tepung tapioka/sagu
150 ml air
2 siung bawang putih, haluskan
1 sdt garan
3/4 sdt kaldu ayam bubuk
2 batang daun bawang, iris.

Bahan dasar :
200 gr tepung tapioka + 2 sdm tepung terigu, campurkan.

Cara membuat :
Panaskan air dan bahan lain kecuali tepung tapioka sampai mendidih. Masukkan teoung tapioka, aduk cepat sampai berubah menjadi lengket dan berwarna bening seperti lem.
Masukan adonan biang ke dalam campuran tepung tapioka dan terigu, uleni panas-panas dengan ujung jari saja. Tarik-tarik adonan sampai semua tepung menyatu.

Goreng dalam minyak panas dengan api sedang sampai matang.

Bahan cuko :
1 gandu gula merah
4 biji asam Jawa
3 buah cabai rawit
1 siung bawang putih
1 sdt ebi
Garam secukupnya.

Cara membuatnya :
Masak gula merah dan asam Jawa, angkat dan saring.
Masak kembali dengan dibubuhi bahan lainnya sampai matang.

posted from Bloggeroid

MAKAN DAN WEFIE DI D'DIEU LAND




Niatnya sih mau daftar ulang sekolah anak-anak doang tapi dasarnya emak-emak bawaannya langsung otewe, entah otewe kemana haha benar-benar gak jelas.

Setelah bertanya-tanya mau kemana lalu disambung dengan pertanyaan Jalan tol atau bukan dan dijawab dengan "jalan tol" membuat kepala suku sekaligus sang pemegang kemudi tancap gas bagai Mario Andretti menuju pintu tol Pasteur.

Lalu melingkar-lingkar lah kami di jalanan yang cukup ruwet yang berujung di tempat wisata kekinian bertajuk D'dieu Land.

D'dieu Land berlokasi di daerah Punclut tepatnya di Jl. Pagermaneuh. Areanya cukup luas dengan kontur tanah yang berundak-undak. Berhubung masih suasana liburan maka di dalam area wisata itu cukup lumayan tumplek blek.

Perut keroncongan membuat kami memutuskan untuk makan siang dulu. Karena sesungguhnya perut kosong itu akan membuat roman wajah kusam dan hal itu adalah musuh kamera.

Lereng Anteng adalah tempat yang kami pilih untuk operasi mengenyangkan perut. Setelah menenteng menu yang di temukan di meja kasir kami pun langsung meluncur ke meja kosong. Meja-meja kayu itu dilengkapi dengan kursi dan bean bag. Tempatnya sendiri cukup nyaman dengan pemandangan terbuka ke arah bukit yang menghijau.

Kenyamanan tempat ternyata tak diimbangi dengan pesanan makanan yang memakan waktu cukup lama.
Saya sendiri memesan Nasi Ayam Tulang Lunak seharga 35K, berisi nasi, ayam, tahu, tempe, seiris timun, seiris tomat dan seuprit sambal. Disajikan diatas piring bambu yang di lengkapi dengan sendok plastik. Bayangkan, menu ayam dengan sendok plastik sedangkan nasi goreng teman duetnya sendok dan garpu berbahan stainless steel. Apa gak ketuker tuh?

Untuk minumnya saya memilih teh oolong seharga 15K, dan sesuai dengan namanya teh ini masa penantiannya looooooong banget. Makanan sudah tandas, minumnya belum juga muncul sampai-sampai saya harus bertanya dan kasir menjawab.
Eeh sudah ditanya masih juga lama nongolnya, yaelaaah plis deh, keseretan nih. Dan apesnya si oolong tea ini disajikan panas-panas yang membuat bibir langsung kena sariawan.

Menurut saya, resto bernama Lereng Anteng ini memang sesuai dengan namanya karena anteng banget pelayanannya sampai-sampai bikin muntab yang nunggunya. Selain itu menu yang disajikannya benar-benar asal ada aja, melihat menu nasi bakar pesanan teman membuat saya megucapkan "Duh gusti" haha lebay. Lemon ice tea-nya manis asemnya kebangetan.

Setelah perut terisi dimana belum merasa kenyang juga sih hihi kami pun meneruskan penjelajahan dengan memasuki area Dago Bakery. Di tempat ini banyak spot yang instagramable banget. Ciamik. Dengan membayar tiket berupa

voucher sebesar Rp. 10,000 di hari biasa dan Rp. 15,000 di hari libur, para pengunjung dapat memesan berbagai macam menu makanan dan menikmatinya di tempat-tempat duduk yang banyak tersedia.

Karena hari sudah sore maka penjelajahan hanya sampai disini, setelah menukar voucher dengan minuman dan popcorn kami pun turun bukit alias pulang.

posted from Bloggeroid

KUE BALOK BROWNIES MAHKOTA


Baru tahu kalau kue balok itu asalnya dari Garut. Bertahun-tahun gaul dengan orang Garut tak serta merta mengetahui ragam macam kuliner daerah sana. Yang saya tahu ya dodol lagi dodol lagi, terutama dodol yang suka piknik. Dodol aja piknik, kamu kok enggak? Nah lo!

Kue Balok pertama saya dibeli di sebuah warung kopi kaki lima nan tradisionil. Si euceu, sang pemilik warung memanggang adonan kue baloknya dalam cetakan yang nangkring diatas bara arang lalu ditutup, dan diatas tutupnya disebarkan kembali bara arang. Sepertinya hal ini adalah adaptasi dari konsep api atas api bawah yang ada di oven masa kini.
Rasa kue baloknya manis dan agak getir. Entah karena kebanyakan soda kue atau jantu, pokoknya gak cocok di lidah saya. Kesan pertama itu membuat saya sedikit phobia untuk kembali menikmati kue yang bernama balok, balok...balok bambuuuuuuu.

Sampai pada suatu hari, ada yang memberi kue balok made in Lembang sekaligus meyakinkan diri ini bahwa kue balok yang ia bawa itu rasanya beda. Alhamdulillah ya sesuatu, kue balok tersebut memang beda. Adonannya plek adonan bolu gak ada rasa getir-getirnya kecuali dimakan sambil meresapi getirnya kehidupan, cieh!
Selain kue balok Lembang, saya pun kerap membeli kue balok di Dago. Yang ini topping dan rasanya lumayan banyak. Ada keju, coklat, sampai greentea.

Kabarnya di Garut sana, satu tahun kebelakang terdapat jenis kue balok yang tengah digandrungi oleh para penggila kuliner yaitu kue balok brownies q'Anom. Kue balok yang adonannya berupa adonan brownies itu memiliki filling berupa coklat yang meleleh. Yaa udah mirip-mirip choco lava cake di film Chef lah, nyaris, hampir, nyerempet.

Nah, di Bandung, jenis kue balok seperti itu dapat di temukan di Jl. Sabang No. 27 dengan nama Kue Balok Mahkota. Rasanya? Legit dan nyoklat banget. Saya sendiri hanya kuat makan satu biji karena kepekatan rasanya. Tapi bila yang tergila-gila dengan brownies kukus atau cake coklat lainnya, rasa kue balok ini akan terasa sangat pas dan mengundang nafsu angkara murka eh nafsu memakannya.




posted from Bloggeroid

Tuesday, 10 July 2018

BUBUR AYAM WORTEL

Pagi hari ketika diri ini malas pergi kemana-mana untuk mencari sarapan dan semua dagangan mamang-mamang yang lewat telah begitu membosankan maka yang dapat dilakukan adalah jelalatan mengaduk-aduk isi dapur dan sekitarnya.

Seperti biasa, isi dapur tinggal sisa-sisa kejayaan bukan kejayaan Gaj Ahmada dan I Am Wuruk namun kejayaan menu kemarin dan kemarinnya.

Buka lemari makan yang terlihat hanya sepasang potongan ayam goreng yang lagaknya sehidup semati. Buka kulkas, yang ada hanya dua buah wortel yang tak jua di elsekusi. Diantara keadaan yang sungguh membuat merana itu mendadak saya teringat-ingat kepada Mih Eru, adik dari ibu mertua saya yang kerap membuat bubur ayam untuk sarapan. Dengan bahan-bahan yang ada saya pun bertekad membuat bubur ayam sendiri kyaaa..kyaaa...

Namun semangat sempat mengendur karena melihat di pot-pot tanaman yang berada di teras dapur tak ada satupun batang daun bawang atau seledri yang menyembul. Untuk pergi ke warung, malesnya minta ampun heuheu. Beruntunglah si Mas Kupat Tahu Petis yang mangkal depan rumah datang, satu genggam irisan seledri pun akhirnya dapat menambah semarak sang bubur ayam.

Bahan :
250 gr beras, cuci bersih
2000 ml air
2 sdt kaldu bubuk rasa ayam
3 sdt garam
2 lembar daun salam
1 buah wortel iris dadu

Cara membuatnya :
Masukan semua bahan ke panci presto, masak 5 menit setelah bunyi desis muncul. Setelah matang, buka panci, aduk-aduk sebentar.

Pelengkap :
Ayam suwir
Minyak bawang (sisa membuat cuankie)
Irisan seledri
Kecap
Sambal (Sisa beli baso kemarin dulu)
Kerupuk

posted from Bloggeroid