Tuesday, 30 April 2013

Bolu Bakar TUNGGAL

Bagi penggemar bakar bakaran, maksudnya makanan yang di bakar, atau lebih spesifik lagi deh, roti bakar, sudahkah pernah mencoba yang namanya bolu bakar?.  Eits, jangan protes dulu, iya betul bolu kan memang dibakar/dipanggang, tapi bolu bakar disini gak sefamili dengan cake melainkan sefamili dengan roti bakar. 

Bolu bakar ini mempunyai penampilan seperti layaknya roti bakar, kabarnya adonan roti yang digunakan merupakan adonan bolu yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan bentuk dan tekstur yang nyaris sama dengan roti. Perbedaannya dengan roti bakar terletak di keempukan rotinya.  Saya selalu eksaiting menjadi yang pertama membuka kemasannya, karena sensasi yang dihasilkannya luar biasa.  Wangi butter menyeruak menyapa indra penciuman saya, roti nya yang masih hangat membuat filling coklatnya *kebetulan saya beli yang filling coklat* sedikit meleleh keluar. Begitu diangkat bolunya terlihat lapisan coklatnya yang tebal.   Aroma bolu bakar ini sesuai dengan rasanya.  Gak heran, dengan 20 ribu rupiah kita hanya akan mendapatkan 8 potongan standar bolu bakar.  Bolu bakar ini tersedia dalam beberapa rasa yaitu coklat, keju, kopi, kacang, nanas, strawberry dan roombutter.

Bolu bakar yang yummi ini dapat ditemui di toko roti Tunggal.  Tunggal ini sebenarnya adalah perusahaan biskuit yang terkenal di Bandung, salah satu biskuit favorit andalan saya adalah biskuit marie gosong.  Dan toko roti ini adalah salah satu divisi bakery nya.

Selain bolu bakarnya yang khas, toko ini pun menjual roti roti bertekstur lembut dan empuk dengan filling yang mantap *enak dan banyak*. Selain roti disana juga dapat dijumpai makanan makanan ringan khas Tunggal,salah satunya adalah roti bagelen dengan rasa yang pas sekali. Sesuai deh dengan motonya “The classic recipe with modern taste“.

Gimana, berani mencoba? Langsung meluncur deh ya ke Jl. Sudirman No. 570 -574 Bandung, tempatnya mudah dikenali kok karena ada baligo bertuliskan “Tunggal“ segede gambreng disana :D

Selamat mencoba.

Published with Blogger-droid v2.0.10
Sunday, 21 April 2013

KUE SEROJA

Great Expectations adalah salah satu judul film nya Gwyneth Paltrow, tapi yang ini bukan tentang film yang agak agak sendu itu,  ini semua tentang kue seroja asin yang baru saja di beli di toko pusat oleh oleh di jalan raya Kuningan. Tampilan nya yang aduhai membuat saya berekspektasi secara luar biasa akan rasanya.  Mengharapkan rasa seroja yang lebih krenyes garing gurih santan ala seroja ciamis demi melihat penampakannya tapi ternyata ehmmm gurih sih tapi bukan dari santan sodara sodara, tapi dari MSG, ya sudahlah kecewa di buatnya.  Memang seroja yang enak itu yang asli dari Ciamis, titik.

#salam serojaaaaaaa

Published with Blogger-droid v2.0.10
Saturday, 20 April 2013

BUBUR AYAM

Sedang di Bandorasa Kulon Kuningan nih, sarapan bubur ayam.  Bubur ayam daerah sini agak beda dengan bubur ayam di Bandung.  Bubur ayam Bandorasa  terdiri dari bubur beras, kacang kedelai goreng, suwiran ayam yang terkadang terselip tulang belulang, irisan seledri, sambal, kerupuk dan guyuran kuah rasa kari yang lumayan kental.  Enak di santap selagi hangat.

Di Bandung, bubur ayam banyak dijumpai dimana saja, di kampung dan di kota layaknya badminton heuheu. Dan salah satunya yang terkenal adalah bubur Pak Zaenal yang terletak di daerah Dago atas.   Bubur ayam ini ciri khasnya adalah buburnya yang berasa gurih santan. Terakhir saya menyantap bubur ini sekitar tahun 2004 an.

Sebenarnya bubur ayam di Bandung ya sama sama saja komposisinya, yang membedakannya mungkin hanya toppingnya, seperti ayam, ati, ampela, usus dan telur.  Bubur ayam spesial biasanya terdiri dari bubur beras, suwiran ayam, irisan ati ampela, telur sepotong, kacang kedelai goreng, cakue yang dipotong kecil, irisan seledri, sambal dan kerupuk.  Di kampung saya, masih ada loh bubur ayam yang bisa di beli dengan hanya mengeluarkan uang 2 ribu perak saja, suwiran ayamnya bertindak hanya sebagai aksesoris, dua suwir cukup.

Lain Bandorasa, lain Bandung, lain pula di Jogya.  Di Jogya, saya kerap menyantap bubur gudeg di bilangan Jl. HOS Cokroaminoto,seberang Hotel Istana.  Bubur ini terdiri dari bubur beras kental, ditemani gudeg, sambal goreng krecek, telur, ayam dan sambal, yang bebas kita pilih sesuai dengan keinginan kita. 

Berhubung saya gak begitu maniak dengan bubur ayam dan segenap familynya, membuat saya gak banyak tau bubur mana saja yang patut di coba.
Ada rekomendasi kah?

#salam bubur ayam dan family nya

Published with Blogger-droid v2.0.10
Saturday, 13 April 2013

ROTI


Sambil menaikkan volume MP3 yang sedang memutar everlasting song dari salah satu band rock
Amrika “Bread“, saya bertanya tanya sendiri apakah salah satu lagu mereka  yaitu “if“ adalah
lagu yang mempunyai judul terpendek sepanjang masa? Maybe yes, maybe no.  Tapi ah
sudahlah lagian saya lagi gak ingin ngebahas lagu dan band itu, kali ini saya ingin ngomongin
tentang bread yang lain, yaitu bread yang berupa makanan, apa lagi kalo bukan ROTI.

Ya, roti, siapa sih yang gak kenal sama makanan satu itu, makanan yang kepopulerannya sudah tak
terbantahkan dalam dunia perkulineran.


Saya adalah salah seorang yang gandrung dengan roti, saking gandrung nya,nenek saya RIP,
sampai menjuluki saya dengan sebutan “londo edyan“ alias bule gila.

Pokoknya roti dari cluster bawah sampai atas bila memungkinkan harus saya cicipi.  Petualangan
petualangan saya dengan para roti sehebat petualangan Sadam dan Sherina.


Entah kapan awalnya saya mulai mengidolakan roti, mungkin sejak bapak saya sering membawakan
roti Sidodadi bila pulang dari kota.  Roti Sidodadi ini adalah roti produksi toko roti Sidodadi, dari dulu sampai sekarang kemasannya yang terdapat tulisan anjuran ber KB tidak pernah berubah. Bahkan tokonya pun sepertinya tak pernah di desain ulang, selalu seperti itu. Roti Tawar Kulit Sidodadi  adalah salah satu roti favorit saya, dengan ciri khas rotinya yang agak alot dan kulit yang tebal menghitam. Roti Sidodadi mempunyai varian lumayan banyak, dari roti isi yang terdiri
dari 4 sampai 5 macam isian, roti tawar kulit, non kulit sampai produk roti yang khas ala
Sidodadi bernama frans tapi bukan tumbuan ya, yang terdiri dari frans polos, coklat dan keju.


Pada suatu hari di tahun 2004 an, bila saya tidak salah mengingat, salah satu teman kantor saya membawa cerita tentang sebuah gerai roti yang baru buka di salah satu plaza dengan jumlah pengunjung bukan main banyaknya. Antriannya mengular bagaikan antrian gebyar sembako murah. Lalu kenapa sih mereka rela mengantri demi makanan yang terbuat dari tepung gandum itu? Penasaran ingin mencoba atau karena ikut meramaikanantrian saja ? Ah entahlah, not my business anyway. Tapi yang pasti mungkin karena kesohoran nama dari roti itu di negara asalnya, Singapura. Pasti tau kan apa nama brand nya? Yup, betul, it called “Bread Talk“.  Perusahaan roti yang baru berdiri tahun 2000 an di tempat asalnya itu memang dibawa oleh salah satu pengusaha bernama om
Johny Andrean ke Indonesia.  Produk mereka yang paling terkenal dan bikin penasaran
adalah roti abon. Karena penasaran akan antriannya eh rotinya, saya pun ikut latah
mencoba roti abon yang fenomenal itu.  Dan ternyata jreengh *backsong fur elise*
tekstur rotinya lembut dengan rasa gurih yang berasal dari campuran susu, telur, mentega, yang pasti berkualitas dengan abon plus mayonaise yang menjadi penyempurna rasa membuat jenis roti tersebut memang layak menjadi signature dari brand yang telah terkenal di kawasan Asia dan juga Timur Tengah.  Untuk harganya sebanding lah dengan rasanya.


Roti abon yang enak di kelompok cluster menengah adalah roti abon kepunyaan Vitasari. Toko
roti yang hanya mempunyai 4 buah gerai di Bandung ini, adalah salah satu toko favorit saya.  Tapi roti abon nya lah yang selalu membuat saya balik dan balik lagi. Amazing nya, toko roti yang berdiri sejak tahun 1992 ini selalu ramai dan rotinya selalu habis dengan cepat terutama ya roti abon nya. Di Vitasari selain roti bertopping abon sapi, tersedia pula roti abon pedas dan roti abon ayam. Harga per piece nya sangat amat terjangkau. Selain roti abon, terdapat pula roti dengan berbagai filling dan
topping, dari coklat sampai keju leleh.  Kelemahan roti produk Vitasari ini adalah bila dicuekin lamaaaa dengan penyimpanan yang ala kadarnya, dia akan merajuk dengan mengempiskan bodynya sungguh berlawanan ya dengan aksi ikan buntal #eh.  Bentuk rotinya standar standar aja gak seheboh bentuk salah satu roti milik French Bakery yang pernah membuat penasaran.
Penasaran? Ya, berawal dari memperhatikan teman saya yang
suka membeli roti sebesar setengah bola sepak itu dan terlihat seperti rumah kura kura. Roti berukuran lumayan besar dan mungkin bisa di masukkan ke family roti keset itu mengandung butiran kismis di bodynya.  Parutan keju berwarna coklat keemasan yang mengering dan warna roti yang menawan menambah indah si roti yang saya lupa namanya.  Tapi memang benar ungkapan “don‘t judge a book by its cover“ karena setelah dicoba ternyata rasanya tidak seheboh penampakannya.
French bakery ini dulu selain mempunyai gerai juga beroperasi dengan menggunakan mobil
roti keliling.


Beralih ke toko bakery yang sudah lumayan lama berdiri di Bandung yaitu Holland Bakery.
Berawal dari niat membeli roti tawarnya yang menurut saya pas rasanya, ternyata pulang pulang
malah membawa roti coklat, keju, polo raisin, mexican coffee, srikaya dan si black papper beef. Roti
Holland ini harganya lumayan kenceng di kelasnya. Selain macam rotinya yang bervariasi dan
menarik, sebuah kincir angin yang berdiri tegak di atas toko tersebut pun menjadi daya tarik
tersendiri.


Nah, bila suka roti dengan filling coklat yang meleleh dan tebal, toko roti Eliza lah tujuan yang tepat.
Rasa filling coklat dari rotinya mantep banget. Tapi seperti roti Vitasari, roti Eliza ini suka ngambek kalo gak cepet di makan :p  Sebenarnya gak hanya roti coklatnya yang yahud tapi kue jajan pasar talam pisangnya pun layak di coba.


Rotiboy adalah salah satu roti yang sedang hip di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.  Rotiboy merupakan jenis roti yang mempunyai ciri khas tersendiri. Dengan aroma yang selalu membuat ngiler, roti berjenis Mexican Coffee Bun itu menjadi salah satu roti yang sangat populer baik di negara asalnya Malaysia ataupun di Indonesia, yang merupakan pemegang hak waralaba pertamanya. Roti ber flavour coffee yang pekat dengan filling butter itu memang juara deh di kelasnya, kranci di
luar, lembut di dalam dan lebih enak bila disantap sesaat setelah keluar dari oven. Ketika salah
satu gerainya pertama kali di buka di Bandung , antrian pengunjungnya sangat luar biasa
memukau. 


Satu lagi produk roti toko bakery yang pernah saya coba adalah Bread Point, tapi saya lupa rasa roti rotinya, kalo sudah begini berarti roti mereka memang belum ada yang berkesan di lidah saya. Itu dulu, kalo sekarang mungkin sudah ada produk unggulan inovasi baru dan belum sempat saya cicipi. Selain Bread Point, D‘lisen dan Jesslyn K, adalah merk merk yang belum bisa memberi bekas rasa yang indah di lidah dan dihati :D 

Untuk roti roti yang dijual di supermarket, dari sekian banyak merk, Sari Roti lah yang tetap menjadi si nomor satu. Tekstur rotinya lebih lembut dari merk lain, isiannya pun lebih pekat dan
rasanya lebih enak.  Sedangkan untuk produk roti yang menclok di hypermart
atau carrefour menurut saya rasanya standar standar saja gak ada yang istimewa atau punya ciri khas tertentu, sepertinya hanya sebagai syarat untuk mengisi divisi bakery saja #sotoy heuheu.


Nah, selain roti roti diatas, saya juga sering mencicipi roti warung yang harganya hanya seribu rupiah saja per piece nya.  Bisa dibayangkan kan rasanya hehe. Jadi inget cerita salah satu teman kakak saya ketika dia sedang menjalankan bisnis roti home industry an tersebut, tapi ah sudahlah tak elok kiranya bila di bahas disini, pokoknya intinya roti seribu an itu memakai bahan bahan yang sesuai dengan harga yang di bandrol, percurahan mungkin *ikon muka linglung dan tersenyum kecyut*
Begitulah sebagian besar petualangan saya bersama para roti yang sangat menyenangkan. Petualangan saya masih dan akan terus berlanjut dengan menyodorkan tagline “Maju tak gentar mencari roti yang rasanya duuuuaaaarr“.

Sudah ada yang pernah coba roti roti di toko bakery jadul di Jl.Braga?

#salam rotiiiii ... rotiiiii ....
Published with Blogger-droid v2.0.10
Sunday, 7 April 2013

Nasi Kuning selalu ada di hati

Nasi kuning atau disingkat naskun adalah makanan yang identik dengan syukuran.  Gak percaya? Percaya aja deh ya, kenapa? Karena naskun ini di percaya orang dapat mendatangkan berkah bagi yang memakannya yaitu berkah menjadi kenyang :D

Menurut adat Jawa, penggunaan naskun yang biasanya dibentuk menjadi tumpeng untuk perayaan syukuran atau selamatan mempunyai filosofi tersendiri. Warna kuning nasinya menggambarkan kekayaan, keberlimpahan, dan rezeki, sedangkan tumpengnya sendiri mempunyai filosofi yang berkaitan dengan moral yang luhur dan hubungan manusia dengan Tuhannya, weiits, it‘s getting seriously eaaaaa.
Tapi ah sudahlah, saya gak akan ngomongin nasi tumpeng, yang saya bakal omongin sekarang adalah si naskun nya.
Nah, begitu melekatnya identitas naskun sebagai menu syukuran maka gak heran ketika saya membuat nasi kuning di rumah untuk sekedar iseng maka seorang tetangga yang sempat bertandang ke rumah pun melancarkan pertanyaan “ada acara syukuran apa nih, ulang tahun?“ dan hanya cengiran lah yang menjadi jawabannya.
Yaaa begitulah nasib si naskun ini, selalu membuat tetangga penasaran, gak tau memang iya penasaran atau karena habis denger bang haji nyanyi, yaa entahlah ya, i dont know for sure so dont ask me lah karena saya bukan fans bang haji.

Dulu ketika saya masih kecil, saya sempat memperhatikan ibu atau nenek saya memasak naskun dan yang terpikirkan di kepala adalah bahwa memasak naskun itu membutuhkan banyak pengorbanan lahir dan batin, ribet tanpa ampun.  Dari mulai mencuci berasnya, membumbui sampai menanak nasinya.  Dan saya pun berketetapan hati bahwa saya gak akan pernah mau bikin nasi kuning bila saya besar nanti, janji memasak No 1.

Tapi waktu berganti, cuaca berubah eh masa berubah dan saya pun menjadi seorang warlock alias pengingkar janji, janji masak No. 1 yang sebelumnya membekas ibarat tatoo nya yakuza, saya tip ex tebal tebal,di setrika dan diakhiri dengan menyemprotkan sinar laser, hilang sudah, mengapa ? karena bikin naskun sekarang ini ternyata semudah bang Eddie Vedder memainkan ukulelenya.

Di jaman serba instan seperti sekarang ini, bikin naskun bukan lagi sebuah tantangan, tinggal cemplung cemplung beras, bumbu instan, santan instan, alat masak instan, ceklik, dalam 1 jam naskun sudah bisa di sandingkan dengan kerabatnya di meja makan.
Bila ingin lebih mudah dan cepat lagi, boleh dicoba produk naskun instan produksi salah satu teman saya *nopaaaayyy komisi haha* ditanggung lebih wussssh jadinya, cepat, mudah, dan enak. Tapi bila tidak ingin bersentuhan dengan alat masak lebih baik beli yang sudah jadi saja deh, karena hari gini naskun gampang banget ditemui, pagi sampai malam menjelang.

Tapi entah mulai kapan dan siapa
pelopornya, tren naskun sebagai
menu syukuran bergeser menjadi
makanan yang dijual orang sebagai
menu sarapan bahkan makan
malam.

Di Bandung sendiri ada beberapa tempat yang suka saya sambangi bila hasrat memakan naskun sedang hot hot nya.  Tempat pertama ada di Jalan Pasir Koja kawasan Bojongloa, lapaknya buka malam hari, lauknya sangat bervariasi dari telor balado sampai semur jengkol. Penggemar naskun di tempat ini lumayan banyak. Tua muda, miskin kaya, surga neraka #eh. 

Tempat kedua adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi, dimana bila kita sekiranya sedang terjangkiti rasa lapar yang sangat sampai menghasilkan komitmen sanggup nelen nasi sama bakul bakulnya, di tempat yang satu inilah hal itu sedikitnya bisa di wujudkan.  Tempat yang terletak di jalan Kopo perempatan Cibaduyut ini menyajikan porsi naskun yang sangat aduhai besarnya, nasi padang bungkus aja kalah sama porsi naskun ini, hebaat.  Lauknya pun gak kalah amazing nya, lengkap dari balado telor sampe ayam crispy segede kepalan tangan preman tanjakan.

Nah, untuk yang sedang berdiet tak ketat dan masih diijinkan makan karbohidrat, naskun Ceu Empat lah sasaran yang tepat.  Porsinya kecil dengan lauk irisan telur, abon, kacang, orek tempe, mentimun, kemangi dan sambel membuat naskun yang terletak di jalan Kalipah Apo ini begitu pas dalam hal memanjakan lidah orang orang yang kelaparan di waktu magrib jelang malam hari.

Dan yang terakhir tempat naskun yang saya rasa patut di coba adalah naskun yang terletak di Jalan Leuwi Panjang, tempat naskun ini beroperasi pada pagi hari, lumayan enak, dengan berbagai macam lauk, cukup untuk menjadi menu sarapan di temani dengan martabak KW an yang nangkring di sebelahnya.

Nasi kuning adalah salah satu masakan asli indonesia, resepnya diperkenalkan secara turun temurun.  Di antara gempuran penemuan resep resep baru dan masakan/makanan impor, ternyata naskun masih bisa bertahan dan mempunyai tempat tersendiri dihati penggemarnya.

Naskuuuun, you raawwkkksss !!!!

#salam naskun dkk

Published with Blogger-droid v2.0.10